Ketika kematian memanggil tiba-tiba

10.00 pm - gw uda di tempat tidur dan akan segera tidur karena memang sengaja tidur lebih cepat karena badan ini butuh tenaga yang lebih besar untuk melakukan aktivitas keesokkan harinya.
Sambil berbincang-bincang dengan nyokap gw, which is gw tidur sama nyokap karena bokap tidak ada di bandung plus nyokap ga biasa tidur sendiri. Alhasil, gw satu-satunya anak perawan dia yang belum menikah so, gw lah yang jadi sasaran empuk dia.

Anyway, tiba-tiba hp nyokap gw bunyi. Suara dari seberang jelas bahwa ada berita duka yang mengagetkan kita bahwa salah satu koster gereja katedral telah meninggal yang juga merupakan tetangga kita. Setelah tutup telepon nyokap merinding karena yupps nyokap kenal sama istrinya juga.
Akhirnya, gw menemani nyokap gw karena ga mungkin gw ga nemenin, tengah malam buta nyokap gw harus pergi ke rumah duka rs yang ada di bdg sendiri? gilaa apa gw.. Gw pun bangun dari tempat tidur dan ganti pakaian seada-adanya.

Sampai lah di rumah duka, gw kira mall doank yang rame ternyata rumah dukapun rame. Kebetulan orang tua salah satu mantan pastur gereja kami meninggal di hari yang sama dan berada di tempat yang sama. Jadi banyak umat kami yang ada di sana.

Sambil mencuri curi pembicaraan nyokap gw, teman nyokap gw dan istri alm. Gw mendengar bahwa he was actually fine, have a good healthy, semua dalam keadaan normal. Pada hari itu, alm. melakukan kegiatan seperti biasanya tapi saat sore dia merasakan bahwa dadanya ga enak, sesak. Dibawalah beliau ke rs di duga kena serangan jantung, mungkin karena kecape'an. Ga lama kemudian beliau meninggal di rs itu.


Yang pasti hal ini sangat mengejutkan untuk keluarga yang ditinggalkan. Tapi ketika gw melihat keluarga beliau, mereka tampak tenang dan ikhlas melepaskannya, memang terlihat raut sedih tapi tidak meninggalkan kesan tidak ikhlas. Itulah hebatnya ketika kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.
Istrinya pun bisa di ajak bicara, bercerita bagaimana kejadiannya. Anak2nya pun tidak ada yang terisak isak sedih.

Bagaimana dengan kita? bagaimana ketika kematian memanggil kita atau orang terdekat kita secara tiba-tiba? apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita menghadapinya? Kita tidak bisa menentukan berapa usia kita hidup di dunia ini. Beliau (alm.) tergolong masih muda karena usia masih 47 tahun tapi Tuhan berkata lain.


Selalu orang berpikir bahwa "pasti orang baik akan meninggal duluan" - menurut gw ada benernya juga. Dia (orang baik) tidak mempunyai tanggungjawab dan janji di dunia ini atau pun utang. Apa yang dia perlukan dan apa dia kerjakan di dunia ini?! Dia tidak punya musuh, tidak ada utang kepada Tuhan yang harus dia penuhi di dunia ini. -- biasanya seyh gtu yaa..
Be like that? its hard. but try to like that? its possible. Tuhan memanggil umatNya yang berhati baik untuk di angkat ke surga sebelum masa penghakiman tiba.

Gw? gw seyh pengen bgt meninggal sebelum masa penghakiman tiba tapi yaa kembali Tuhan yang memampukan semua itu. So, sekarang ini, janji yang belum gw tepati harus segera gw tepati sehingga gw tidak punya utang di dunia ini.
Spooky yaa.. hahaha... life is a choice.. u know what u really want to in ur life,jalanilah.. tapi ingat saat km memilih apa yang terbaik dalam hidupmu, libatkan Tuhan biar kita tidak jatuh tertimpa tangga yang terlalu curam.

Comments