Bukan seperti itu caranya

Tahun lalu adalah tahun traveling buat gw. Yaa salah satunya adalah mengikuti upacara Waisak di Borobudur. Pengalaman yang menyenangkan sekaligus perjalanan spiritual. Gw tidak mengikuti secara keseluruhan upacara waisak saat itu tapi gw merasakan bahwa perjalanan ini bukan sesuatu yang bisa dibayar tapi pengalaman melihat secara langsung prosesi dari pagi hingga penghujung acara.
Tapi tahun ini, gw ga pergi dikarenakan beberapa hal, padahal disatu sisi teman-teman sudah mengajak untuk pergi lagi.
Mendengar cerita dari teman gw dan berita, tahun ini waisak diwarnai dengan ketidaksopan santunan orang-orang (turis-turis) yang datang ke sana untuk menyaksikan waisak, mungkin lebih tepatnya mereka ingin menerbangkan lampion. Yaa.. cerita yang sangat miris dan sedih sebagai orang Indonesia yang terkenal dengan sikap toleransi. Terlansir dari suatu berita yang gw baca pagi ini bahwa salah seorang fotografer mencoba untuk mengambil momen dengan menaiki panggung tempat mereka (biksu dan umat buddha) berdoa, saat itu ybs sudah diusir namun kembali lagi melakukan aksi. Sebagai pengguna kamera slr dan penikmat foto, gw sangat keberatan dengan hal itu, menurut gw mereka sama sekali tidak mempunyai aturan. Jangan hanya karena untuk mengambil gambar yang bagus, kita harus mengganggu acara sakral ini. That's one thing.
Another thing is teman gw cerita kalau di belakang mereka, ada salah seorang berkata "doanya lama banget". Okeh that's not even polite.. yaa kalau gtu, ga usah ikutan ajaa upacara waisak itu. Ini kan upacara seperti Paskahan atau Natalan, Lebaran dan juga Nyepi. Respect them! Tata upacaranya seperti itu yaa ikuti saja, kita bukan panita atau pemeluk agamanya.
That's terrible. Sama sekali ga punya moral. Hargailah mereka yang menjalankan, ikutilah prosesinya dan jangan buat gaduh deyh!!

Comments

Popular Posts